Search This Blog

Tampilkan postingan dengan label KISAH TAULADAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH TAULADAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2011

KISAH SUAMI TAULADAN

Ada sebuah keluarga...

pernikahannya telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.



Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.



Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.



Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.



Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.



Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.



Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu – wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.



Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.



Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.



Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama



Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.



Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.



Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.



Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang istri pun bad rest di rumah sakit.



Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang istri. “Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.



Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.



Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.



Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.



Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.



Dan subhanallah …



Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.



Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.



Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka- bukanya dan membacanya.



Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.



Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

Sabtu, 29 Januari 2011

GADIS SHALEHA JEMPUT MAUT DENGAN SENYUM



Sakaratul maut merupakan peristiwa luar biasa yang di  alami oleh setiap manusia yang akan meninggal dunia.Karena itu  manusia yang mengalaminya biasanya  merasa kesakitan dan sangat susah. Akan tetapi ,ada juga manusia yang  memiliki keistimewaan dapat melalui masa sakaratul maut dengan tenang dan damai. Biasanya keistimewan itu mereka dapatkan karena amal perbuatan mereka yang Ikhlas dan bersih selama hidupny

Satu orang yang mendapatkan keistimewaan itu adalah Sukarni,Seorang gadis shaleha yang meninggal bebrapa tahun lalu ,tepatnya pada tanggal 10 januari 2001.Gadis ini bukan hanya mengalami sakaratul maut dengan tenang dan damai ,tetapi juga mengakhiri hidupnya dengan senyum tersungging di bibirnya. Peristiwa ini di saksikan sendiri oleh ibunya ,yaitu siti hajar, yang dengan penuh kasih seorang  ibu menemani saat saat terakhirkehidupan sukarni yang saat itu sedang menderita sakit.

    Menurut janda berusia 62 tahun yang biasa di panggil ibu Adah ini , pada saat saat terakhir hidupnya ,sukarni seolah tidak tampak sedang mengalami sakaratul maut. Pada waktu itu, gadis yang biasa di panggil Karni ini memang sedang sakit. Ia sudah sebulan lamanya menderita sakit akibat paha di  bagian  belakangnya berlubang.Akan tetapi  pada hari itu ia tak mengeluh sakit atau kepayahan seperti yang biasa tampak pada orang orang yang mengalami sakaratul maut. pada waktu itu Karni sedang berbaring di tempat tidurnya sambil berdzikir memegang tasbih seperti hari hari biasanya .Kebetulan ibunya juga berada di sampingnya  menemani anaknya yang ke lima ini.

    Ketika ibu Adah hendak berdiri dan keluar kamar, tiba tiba ia melihat mata anaknya memandang dengan pandangan lain,seolah tak mau melepaskan pandangannya dari  wajah ibunya.Melihat keanehan itu ibu Adah  membatalkan niatnya untuk pergi keluar kamar Ia duduk kembali di sisi anaknya

Begitu orang tua ini menundudukan tubuhnya di  atas tempat tidur di samping anaknya ,tiba tiba mulut anaknya bergerak gerak mengucapkan sesuatu yang tidak jelas. Mungkin ia mengucapkan kalimat talkin. Perlahan lahan  mata gadis  Shaleha itu terpejam bersamaan dengan senyum yang menyungging dari bibirnya  Dan gadis Shaleha meninggal dengan Indahnya .

Inilah sederetan cerita yang  saya dapatkan tentang detik detik terakhirnya gadis shaleha itu.

     ''Waktu itu saya hendak keluar kamar, tiba tiba  saya melihat Karni menatap kepada saya dengan  tatapan aneh sekali.Ia menatap saya terus tanpa berkedip sekali pun.saya membatalkan niat saya untuk keluar kamar.Saya dekati dia lagi . Tidak lama kemudian ,mulutnya bergerak gerak,sepertinya mengucapkan sesuatu, tetapi tidak dapat saya dengar,lalu matanya terpejam sambil mulutnya begini[tersenyum] Cerita Ibu Adah sambil menyungging senyum kecil mencontohkan  bagaimana karni tersenyum pada saat saat terakhir dalam hidupnya.

  • TETAP SHALAT MESKIPUN SAKIT PARAH.

Menurut Ibu Adah,Karni sudah lama menderita sakit akibat jatuh dari tangga  di depan rumahnya,sekitar dua tahun sebelum ia meninggal dunia.Akan tetapi ia waktu itu tida merakan sakit apapun, sehingga Ibunya tidak membawanya ke dokter.Setelah lebih dari satu tahun  ia baru merasakan tulang punggungnya seolah terlepas dan pahanya terasa sakit.pada saat itu ia masih bisa berjalan dan shalat dengan berdiri.

 Tidak lama setelah merasakan sakit di punggung dan pahanya,di salah satu pahanya terdapat benjolan sebesar kepalan tangan .Benjolan itu kemudian pecah dan menimbulkan lubang yang cukup besar.Sakit yang di derita Karni semakin parah.Saat itu ia masih bisa berjalan sedikit,tetapi  tidak bisa lagi shalat dengan berdiri,kerena ia tidak bisa rukuk dan sujud.Dalam  kondisi seperti itu ,karni masih tetap  menjalankan kewajiban  shalat lima waktu,meskipun ia harus melakukannya dengan berbaring. Bahkan ,ia masih  tetap melaksanakan shalat shalat sunat seperti shalat Dhuha dah Tahajud.

''meskipun kondisinya sudah parah seperti itu, Karni tidak mau meninggalkan shalat lima waktu.
Ia shalat dengan berbaring dan bertayamum.Ia sempat ragu dan bertanya kepada saya, apakah shalatnya sah atau tidak? Saya jawab sah sah saja, karena keadaan yang memang tidak memungkinkan shalat dengan cara seperti biasanya  orang yang sehat .''kenang Ibu Adah.....


  • KEJADIAN ANEH MENJELANG KEMATIAN KARNI.

Sekitar dua bulan menjelang  kematiannya  Karni, tepatnya pada malam pertama bulan Ramadhan tahun 2000,karni mengalami masa masa kritis. Ketika orang orang bersiap  hendak pergi ke masjid untuk Shalat Tarawih yang pertama pada bulan Ramadhan itu. Karni seolah tak sadarkan diri sejak selesai Shalat Magrib,Mulutnya tidak berhenti beristighfar sambil matanya berair menahan tangis.Di sela sela Istighfar itu, beberapa kali  terdengar ia meratap sedih.
'' Ya Allah ,,, jangan ambil Karni  dulu .Karni belum siap,Karni belum rela meninggalkan Emak Karni''
Ratap Karni pada malam itu .

  Berjam jam Karni mengalami masa itu ,  Orang orang  di sekelilingnya juga ikut menangis mendengar ratapannya yang sungguh menyentuh hati itu. Berkali kali Ibu dan sodara sodaranya mengguncang guncang tubuh Karni,tetapi  Karni tetap saja tak perduli dan terus mengucap Istighfar tanpa henti.

Sekitar pukul sembilan malam,Karni baru berhenti berIstighfar.Ia mau berbicara kembali seperti biasanya .Bahkan ketika teman-temannya menjenguknya setelah shalat tarawih,Karni bisa berbicara dengan mereka. Seolah tak tak mengalami peristiwa yang baru saja terjadi.

Dan keesokan harinya Ibunya menanyakan perihal kelakuannay tadi malam  yang beristighfar dan meratap. Dengan tegas Karni bercerita , Bahwa pada malam itu Karni di datangi  dua orang lelaki berjubah putih  yang menyuruhnya Beristighfar.Lelaki itu mengatakan bahwa  jika Karni tidak mengucap Istighfar, maka mereka akan mencabut nyawanya .Kerena itulah,Karni terus beristighfar tanpa menghiraukan sapaan orang orang di sekelilingnya.

Satu bulan kemudian ,datanglah hari Raya Idul Fitri. Para tetangga , kenalan dan sanak sodara Karni  bergantian datang kerumah Karni untuk bersilaturahmi[berlebaran]. Masa masa itu karni pergunakan untuk meminta maaf kepada semua orang yang datang kerumahnya.


Sekitar satu minggu  setelah hari raya /beberapa hari sebelum kematian  karni, Muncul lah kejadian kejadian aneh yang di alami oleh Karni.Kejadian pertama yang di alami pada hari minggu. Pada siang itu, Ibunya Melihat mulut Karni sedang menguyah nguyah sesuatu. Ia merasa heran dengan kelakuan anaknya, Kerana Ia tidak melihat benda apapun yang di kunyah oleh anaknya itu.  dan kerena merasa penasaran.Sang Ibu pun Bertanya kepada anaknya.

   ''' Kamu sedang apa karni?'' Tanya Ibunya
   '' Karni kan sedang makan,Mak. Itu orang ynag sedang menyuapi Karni.
Masa emak tidak melihatnya? Orang nya pakai jubah dan jilbab. orangnya tampan dan cantik.dua duanya juga baik''jawab Karni sambil meneruskan menguyahnya.

Keesokan harinya,yaitu hari senin malam, ketika Karni sedang berbaringan di kamarnya ,Ia melihat lewat jendela ada dua orang tamu yang datang ke rumahnya .Dan Di kursi panjang ruang tamu ada keponakan nya  yang sedang berbaringan. Adi namanya .. Karni memanggil manggil keponakannya agar  segera membuka pintu.

     '' Adi tolong buka pintunya, ada tamu yang datang ,suruh dia  masuk,jangan di biarkan saja..!''  perintah Karni pada keponakan nya itu.
   Mendengar suara Karni, Ibu Adah yang sedang berada di dapur segera menemui anak nya
   '' Ada apa Karni?'' Tanya Ibunya.
   ''Itu ada tamu yang datang kenapa tidak di suruh duduk?'' jawab Karni
   ''Tidak ada tamu Karni, Itu si adi sedang tiduran'' jawab ibunya.
   ''Saya tahu si Adi sedang tiduran,tapi ada tamu yang datang.pakaiannya putih putih memakai      sorban,'' jawab Karni. Ibunya tidak bisa menjawab lagi.

Pada Pagi harinya yaitu hari selasa, Karni meminta Ibunya  mendekat kepadanya .Ia ingin menyampaikan sesuatu  kepada orang tua yang di cintainya itu. Dengan suara yang jelas ,pelan tapi penuh perasaan, ia pun berpamitan kepada Ibunya ..
 '' Mak kemarilah sebentar,'' pinta Karni.
 '' Ada apa Karni?'' tanya Ibunya sambil mendekat pada anaknya.
 '' Emak jangan nangis ya ? kalau bulan  kemaren Karni belum rela meninggalkan Emak,sekarang Karni sudah Ikhlas dan Ridho meninggalkan Emak.Karni mau pulang,'' Ucap Karni sambil memandangi wajah Ibunya yang sudah tua itu
 '' Karni mau pulang kemana? ini kan rumah Karni.''
 ''Karni mau pulang ke rumah Karni. Rumah ini kan rumah sama sama .Karni sudah di panggil  oleh Allah .Karni sudah punya rumah disana .Karni minta Emak mengikhlas kan Karni,'' lanjut Karni.
Mendengar kata kata   anaknay, Ibu Adah tidak dapat membendung airmatanya lagi .Ia menangis sedih dan haru.Sedih  karena anaknya  akan meninggalkan nya untuk selamanya ,Dan haru karna anaknya begitu tabah menerima apa yang terjadi pada dirinya.
'' Emak jangan menangis,mak,''kata karni melihat titik titik airmata  yang mulai bergulir di pipi Ibunya .
'' Karni jangan  bilang seperti itu . tidak baik,karni'' tiba tiba Sofyan,kakak iparnya yang dari tadi diam saja di sebelah Ibu Adah ,ikut bicara.
'' Tapi Karni harus pamit pada Ibu.Ajal Karni sudah dekat. Karni gak mau Emak menangis dengan kepergian Karni'' jawab Karni.
'' Kalau Karni tidak mau Emak menangis, Karni tidak usah bilang bilang seperti itu. Lebih baik Karni simpan sendiri biar Emak tidak sedih,'' nasehat Sofyan.

Mendengar nasehat dari kakak iparnya ,akhirnya karni diam.Ia tak mau Ibunya menangis dan sedih karena ceritanya.  Siang harinya Karni mengaku melihat orang di jendela. Orang itu memanggil manggil Karni  hendak mengajaknya  pergi.Tetapi Karni tidak beranjak dari tempat tidurnya
'' Mak, di jendela ada orang melambaikan tangan kepada Karni. Dia mau mengajak Karni pergi. Orang nya baik sekali Mak, Tuh , lihat Mak...!'' '' kata Kari. Ibu dan saudara saudaranya hanya diam saja.
 Ada satu hal yang tidak disadari oleh Ibu Adah pada ahari itu, Ia tidak melihat sesuatu yang lain pada anaknya. Akan tetapi , Fuad anak menantunya yang tinggal di cipete(jaksel) Melihat perbedaan pada wajah Karni itu di bandingkan dengan hari hari yang lain. Pada hari itu Fuad .. datang bersama keluarganya menjenguk Karni yang sedah lama sakit.Fuad terkejut melihat wajah Karni yang pada saat itu kelihatan sangat cantik dengan dandanan yang lain dari biasanya.Wajah itu bukan hanya tampak lain, tetapi juga sangat bercahaya dengan terangnya kerena merasa aneh ,ia sempat bertanya kepada ibu mertuanya.
'' Mak, Apa Karni di dandanin hari ini?'' tanya Fuad merasa heran.
'' Tidak. tidak ada yang mendadaninya , memang ada apa?'' jawab Ibu Adah.
'' Saya lihat Karni cantik sekali seperti di dandani.Wajahnya juga bercahaya. Apa Emak tidak lihat?'' tanya Fuad. dan Ibu mertuanya hanya menggeleng.
Hari itu memang Karni tampak berbeda.Wajahnya kelihatan sangat cantik, seolah habis di dandani. Tapi tidak semua keluarga menyadari perbedaan itu.

Masih hari selasa,siang itu beberapa Ibu Ibu kelompok pengajian di sekitar rumahnya.Hri itu Kari masih mengenal semua orang yang datang ,menyalaminya dan meminta maaf kepada mereka.Bahkan kepada Ibu Ibu itu,Karni meminta untuk di sampaikan permintaan maafnya kepada Ibu Ibu lain yangdatang kerumahnya.Sepertinya Ia sudah tahu kalau ajalnya sudah dekat.

Pada malam harinya yaitu malam Rabu,malam teakhir dalam hidupnya.Karni sempat bertanya kepada Ibunya.
''Mak ... ,malam ini malam apa?''tanya Karni.
''Malam Rabu ,''jawab Ibunya.
''Malam Rabu itu bagus apa tidak ya?'' tanya Karni lagi.
''Semua hari bagus ,tidak ada hari yang tidak bagus, memangnya ada apa ? Ibu balik bertanya .
''kalau begitu Karni mau pulang,, tapi besok saja pulangnya,hari Rabu .. kata Karni.

Pada waktu subuh Karni mengaku di datangi dua orang tamu . satu laki laki dan yang satu perempuan Yang laki laki memakai jubah ,dan yang perempuan memakai jilbab.Mereka tampan dan cantik serta baik. Kedua orang ini memegangi tangan Karni,sehingga Karni tidak bisa melihat tangannya sendiri.

Pada jam tujuh pagi,Karni semakin menyadari bahwa ajalnya semakin dekat.Ia sudah melihat ada orang yang datang untuk membawanya pergi dari dunia fana ini.Tetapi Karni tidak merasa takut kepada orang  yang mungkin jelmaan dari Malaikat Maut itu. ia malah menganggap orang yang datang itu sebagai kekasihnya kedatangan orang itu di beritahuakan kepada Ibunya.
''Mak pacar Karni  sudah datang .Orangnya tampan sekali.Dia mau menjemput Karni'',Ucap Karni kepada Ibunya

Ibu Adah tak menyangka kalau kata kata itu merupakan kata pamit dari anaknya.Tidak lama setelah mendengar kata kata anaknya  itu, ia pun berdiri hendak keluar kamar meninggalkan anaknya sebentar.Tetapi niat itu di batalkan  begitu melihat tatapan mata anaknya  yang tidak mau berpaling m memandanh wajahnya.

''Saya tidak tahu kalau waktu itu  dia benar benar pergi ,Dia menatap saya lama sekali .lalu mulutnya komat kamit,entah menbaca apa. Ternyata  ajalnya benar benar datang. Ia Meninggal dengan tangan nya memegang tasbih dan bibirnya tersenyum,''innalillahi wainnaillahiroji'un.''

Jumat, 14 Januari 2011

TAAT KPD SUAMI & BERSABAR TERHADAP MUSIBAH



ISTRI NABI AYYUB TELADAN DLM KEIKHLASAN, TAAT KPD SUAMI & BERSABAR TERHADAP MUSIBAH






Laya beriman kpd Ayyub alaihis salam dan dakwah beliau, perlu disebutkan disini bahwa hanya ada 3 org yang beriman kpd dakwah Ayyub alaihis salam.

Laya banyak memuji Allah, bersyukur dan menyanjung Allah ta`ala, karena Allah memberinya anak laki2 dan perempuan yg menyenangkan hati dan mata tdk sedih karena memandang mereka, karena Allah memberi suaminya kekayaan banyak, dan melebihkan beliau diatas seluruh makhluk-Nya.
Laya paham betul bahwa rahasia awetnya sebuah nikmat ialah mensyukurinya, oleh karena itu ia selalu berdzikir, memuji Allah, menunaikan hak kpd pemiliknya, membantu hamba2 Allah dan berbuat baik kpd mereka, dlm semua hal tersebut, Laya bersinar dengan sinar kemuliaan suaminya Ayyub alaihis salam.

Laya istri Ayyub menapaki tempat penuh berkah dan tinggi di kedudukan kejujuran, ia duduk pada tempat tinggi di posisi orang yang baik2, karena ia hidup bersama suaminya dalam ujian yg terjadi padanya selama kurang lebih 18 tahun, Laya adalah contoh istri yg baik, istri yg sabar, dan ridho kpd qodho dan qodar Allah ta`ala.

Laya meniru kebeningan hati suaminya, ibadahnya, dan interaksinya yang baik terhadap tuhannya. Laya melihat semua sifat mulia pada diri suaminya, kemudian ia menirunya agar ia termasuk orang2 yg sukses menggenggam keridhoan Allah ta`ala.

UJIAN BAGI AYYUB ALAIHIS SALAM

Namun, keadaan Ayyub alaihis salam berubah total dari keadaan sebelumnya, karena seluruh kekayaan, sawah, dan asetnya ditarik oleh Allah. Ayyub diuji dengan cobaan, kemudian cobaan lain, kemudian cobaan lain setelah sebelumnya diuji dengan kematian anak2nya dan harta beliau habis. menghadapi seluruh ujian, Ayyub alaihis salam bersabar begitu juga istrinya.

Tapi sekarang Ayyub diuji dgn ujian lain, beliau diuji di tubuh beliau, tubuh beliau sakit hingga berhari2 bahkan bertahun2, kendati demikian Ayyub tetap bersabar, mengharapkan pahala dari Allah, dan berdzikir kpd-Nya di setiap waktu.

Ayyub sakit hingga nyaris hubungan beliau dgn manusia terputus dan tdk ada yg berbelas kasih kpd beliau kecuali Laya. sungguh Laya menunaikan hak suaminya, ia ingat kebaikan Ayyub tempo silam kepadanya dan kasih sayang suaminya kpdnya ketika suaminya berada dlm kelapangan hidup dan kesempurnaan sehat dan pisik. setiap pagi dan sore Laya mondar mandir menjenguk suaminya yang dikucilkan sahabat2 dan dijauhi keluarga, namun Ayyub tetap menyatu dgn Allah, Laya melihat semua itu, kemudian ia semakin bersemangat untuk mengabdi kpd suaminya, menyiapkan keperluan beliau, membantu suaminya dlm memenuhi kebutuhannya dan melaksanakan pengobatan beliau, hingga akhirnya kondisi dirinya melemah dan kekayaannya menipis, tapi Laya tetap bersabar bersama suaminya terhadap musibah yg menimpa keduanya yaitu kematian anak2nya, hartanya yg habis, musibah sakit yg menimpa Ayyub dan kemiskinan setelah hidup kaya.

KESABARAN LAYA HAMPIR MENGIKIS

Adapun istri Ayyub, Layya, ia menyayangi suaminya dan sedih atas kondisi suaminya, ketika Laya melihat suaminya berada dalam musibah yang memakan waktu cukup lama dan musibah tersebut jusru menambah syukur dan kepasrahan beliau kepada Allah, ia mendekat kepada Ayyub dan berkata "Wahai suamiku, engkau adalah orang yang doanya dikabulkan, oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu!"
Ayyub berkata "wahai istriku, aku telah hidup sehat selama 70 tahun, maka aku harus bersabar untuk Allah selama 70 tahun juga"

Ketika Laya mendengar jawaban suaminya yang sarat dgn iman, kepasrahan dan ketundukan kpd Allah, ia sedih karenanya. Laya melihat suaminya dgn mata hati dan mata kepalanya bahwa suaminya telah menjadi percontohan indah tentang kesabaran, tunduk kpd qadha dan taqdir Allah, serta berserah kpd kehendak Ilahiyah, Laya tahu bahwa dirinya tdk mungkin sanggup menggapai kedudukan suaminya atau naik ke tempat yg pernah di duduki suaminya ketika beliau bersabar, kendati demikian, Laya berbuat baik kpd suaminya dan menjaga cintanya, karena keimanannya kpd Allah dan rasulNya, Ayyub, ketika itulah, rahmat Ilahiyah turun kpd Ayyub dan juga kpd istrinya, Laya, yg tdk meninggalkan beliau sepanjang tahun2 sakit dan musibah beliau, pasangan tersebut adalah dua orang terbaik diatas permukaan bumi ketika itu, hingga akhirnya Allah menyembuhkan sakit beliau dan beliau mendapatkan sentuhan Rabbani kemudian sehat seperti dulu

Sungguh Allah merahmati istri Ayyub, Laya, memuliakannya atas kesabarannya bersama suaminya terhadap musibah, dan membimbingnya kpd kemanisan taat dibawah naungan keridhoan Allah ta`ala.
Inilah sejarah hidup istri Ayyub, ia wanita yg sabar, ahli ibadah, memuji Allah, bersyukur, dan ditentukan Allah mendapatkan surga atas ketaatan dan kesabarannya tersebut.

Kisah ini sarat dgn pelajaran berharga dan ibrah bagi siapa saja yg mempunyai hati nurani, bahwa dunia adalah ladang akhirat. selain itu, setiap org wajib melatih diri mengendarai kendaraan sabar, tdk berkeluh kesah atas musibah yg menimpanya, bersungguh2 dlm melaksanakan hak Allah pada dirinya, tdk marah terhadap qadha dan takdir yg terjadi pada dirinya.

Hadanallah wa iyyakum ajma`in.

Selasa, 11 Januari 2011

JEJAK KATA ALFATIH




CUKUPLAH ALLAH YANG MENJAGA CINTA ITU

Muhammad Fatih Hifzillah adalah nama mujahid yang pinangannya aku terima satu bulan yang lalu setelah rangkaian proses perkenalanku dengan ikhwan ini. Seorang bersahaja yang datang ke rumahku bersama sang bunda, ustadz, dan beberapa rekannya. Seorang  mandiri yang membiayai sekolah dan kuliahnya sendiri sejak ayahnya wafat, saat ia masih duduk di bangku SMP. Seorang yang juga pernah menyelesaikan program tahfizh pada lembaga bimbingan Al-Qur’an yang sama denganku. Seseorang yang aku yakin adalah jawaban dari doa-doa malamku, bisikan-bisikan dalam sujud panjangku, dan bagian dari solusi perjuangan dakwah.
Tidak ada hal yang menjadi masalah sejak biodatanya kuterima. Tidak juga ada ganjalan dari diskusi panjang pada sebuah sore di rumah ustadzahku. Saat itu, ada aku dan ustadzahku, dia dan Pak Umar ustadznya, serta suami dari ustadzahku. Kami berdua memang tidak menetapkan kriteria tinggi yang spesifik. Visi, fikrah, dan cita dakwah kami sehaluan. Suasana diskusi kami mengalir lancar. Hanya saja, satu pertanyaannya yang terakhir membuatku tersentak pada pertemuan itu.
“Seperti yang Anti bisa ketahui dari biodata Ana, hidup dalam kemuliaan di mata Allah atau syahid adalah pilihan Ana. Ini bukan sekadar jargon. Ini adalah jalan hidup yang selama ini Ana pilih. Banyak orang yang melihatnya sulit, namun begitu indah bagi yang menjalaninya… ” ungkapnya dengan suara yang berat.
Suara itu tertahan. Aku masih belum menangkap poin utama pernyataannya. Aku sempat penasaran dan sejenak mengalihkan pandang kepadanya yangternyata sedang mengambil napas panjang. Kepalanya menengok ke arahku dan segera kutundukkan kembali pandanganku. Ya Allah, aku tak sanggup melihat seraut wajah yang memiliki tatapan mata yang begitu tajam. Suaranya lalu meneruskan kembali perkataan yang tadi sempat terhenti.
“Sanggupkah Anti menjalani hidup yang demikian bersama Ana, …termasuk sanggupkah Anti untuk kehilangan Ana bila sewaktu-waktu Ana berjumpa dengan cita tertinggi Ana?”
Ya Ilahi Robbi… belum juga kita memulai kebersamaan itu, mengapa perkara kehilangan yang dipertanyakan… Pikiranku sempat menerawang. Apakah karena selama ini hidupku serba berkecukupan sehingga ia perlu memastikan kesediaanku menjalani kehidupan yang sulit bersamanya? Aku mencoba mengendalikan perasaanku dan mengatur napasku.
“Rumah tangga adalah mata rantai perjuangan dan pemelihara kesinambungannya. Salah satu keberhasilan dan kebahagian seorang istri mujahid adalah, ketika ia mampu mengiringi suaminya meraih apa yang ia cita-citakan. Semoga Allah meneguhkan keimanan dalam hati-hati kita untuk selalu bergantung kepadaNya saja...” jawabku sambil berusaha setenang mungkin.
“Allahu akbar… “ gumam suara berat itu berulang-ulang.
Peristiwa sore itu memang tak akan pernah saya lupa. Terlebih saat ini, dimana semakin dekat pada hari yang dinanti, semakin hati ini penuh gejolak. Perasaan was-was kian sering menghampiri. Entah ini adalah firasat yang benar atau hanya godaan syetan belaka. Berulang kali aku mencoba meneguhkan hatiku sendiri. Kebimbangan ini pasti hembusan dari syetan. “Ya Allah, aku berlindung padaMu dari rasa was-was yang ditiupkan ke dada manusia dari syetan golongan jin dan manusia… “
Hembusan ragu itu memang tak jarang menempa diriku sendiri. Layakkah aku mendampingi kehidupan “pahlawan” itu? Atau, tiba-tiba mama cenderung pada ikhwan lain yang pernah menawariku proses ta’ruf sebelumnya. Atau, tiba-tiba papa meragukan kesungguhannya. Atau, aku sendiri yang ciut kala berhadapan dengan kakak-kakaknya Akh Fatih…
Soal pikiran mama dan papa hanya lintasan pikiran yang ditanggapi berlebihan saja. Aku bisa meyakinkan mereka kemantapan pilihanku, walau kadang pikiran yang sama akan timbul lagi pada mereka di lain waktu. Untuk urusan yang terakhir, itu yang masih sulit aku hadapi. Sudah dua kali Akh Fatih meminta aku datang ke rumahnya untuk bersilaturahim dengan keluarganya dan setiap kali aku datang, selalu saja ada masalah sepulangnya aku dari sana.
Akh Fatih memang sengaja memintaku menemui mereka sebagai bagian dari pengkondisian keluarganya atau mungkin juga sekalian mengkondisikan aku. Selain itu, aku juga memang ada keperluan lain seperti mengambil undangan, meminta ukuran pakaian keluarganya untuk walimah, dsb. Biasanya, aku ke sana sepulang nge-Lab, menyelesaikan penelitianku di kampus. Itu pun jika aku bisa menyelesaikan tugasku lebih awal di hari itu.
“Kalau ada Antum di rumah, Ana pulang. Ana gak mau ada fitnah,” ujar saya setiap kali Akh Fatih mengingatkanku untuk datang. “Ana akan sengaja pulang lebih malam supaya Anti bisa lebih leluasa berinteraksi dengan mereka. Kalau ada apa-apa, bilang ke Rani saja. Jazakillah khoir sebelumnya,” jawabnya yang selalu sama.
Ibu Akh Fatih, Bu Ina, atau biasa dipanggil Emak, adalah wanita yang luar biasa baik hati. Beliau dengan segala kesederhanaannya sangat hangat dan ramah setiap kali menerima kedatanganku. Demikian juga dengan si bungsu Rani yang hobi curhat denganku. Tapi, Kak Fida dan Kak Fira, kedua kakak Akh Fatih itu… Entah apa sebabnya, mereka kurang bisa menerima kehadiranku. Selalu ada saja yang salah dari tindak-tandukku, perkataanku, penampilanku, dsb.
Kedua kakak Akh Fatih memang tinggal di samping rumah Emak. Maklum, dari tiga kontrakan peninggalan ayahnya Akh Fatih, dua di antaranya dipakai oleh anaknya sendiri. Sementara satu lagi, rencananya adalah untuk Rani jika kelak ia berumah tangga. Keluarga ini memang mandiri. Mereka memiliki usaha pembuatan emping melinjo di rumah. Si sulung Kak Fida telah bertugas memasarkan emping-emping tersebut sejak SMA. Sementara Kak Fira, ia suka memasak dan menitipkan dagangan di warung-warung, termasuk kepada Emak yang juga menjual nasi uduk walau hanya buka pada pagi hari.
Ya, sudahlah. Ini adalah bagian dari ladang amalku. Aku sangat yakin mereka sebenarnya sangat baik. Hanya saja, mungkin mereka khawatir aku akan mengambil banyak jatah perhatian dari anak laki-laki semata wayang ini. Akh Fatih memang tulang punggung keluarga. Pemasukan dari pembuatan emping tidak seberapa. Penghasilan satpam suami Kak Fida dan usaha percetakan suami Kak Fira juga demikian. Setelah Akh Fatih diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta di bidang informatika dan komunikasi, ia banyak menalangi kebutuhan keluarga ini. Setidaknya, begitulah penjelasan Rani pada kunjunganku pekan lalu. Wallahu’alam…
***
Seven days to my weddingday. Jam tanganku menunjukkan pukul 6.30. Ya Allah, aku sudah telat 30 menit dari waktu yang aku janjikan untuk menemui Emak hari ini. Aku sudah menyatakan bersedia menemaninya menjual nasi uduk, lalu bersama Rani mempersiapkan barang-barang seserahan untuk walimahku nanti.
Aku pun keluar dari Audi yang kuparkirkan di halaman depan rumah Akh Fatih. Kuperhatikan Emak yang sedang asyik melayani seorang pembeli. Sementara, Kak Fira sempat menghentikan aktivitas menyapunya saat aku datang.
“Assalamu’alaykum…” sapaku seraya mencium tangan Emak.
“Wa’alaykum salam… Kirain Neng kagak datang. Emak dah mulaen nih. Ayo dah duduk sini!” ujar Emak.
“Biasa deh Mak, orang kaya mah abis subuh tidur lagi. Apalagi kalo libur… bangunnya abis lohor kali. Gak biasa kerja sih…” seloroh Kak Fida.
“Gak begitu kok, Kak. Maaf, saya memang salah. Ini, saya bawakan susu kedelai buat di sini. Baru tadi subuh saya bikin. Rasa stroberi lho, Mak…” sergahku.
“Jangan mau, Mak. Ntar sakit perut…” seru Kak Fida.
“Ga apa-apa kok, Kak. Karena Emak sudah menopause, harus sering minum ini. Biar tulangnya kuat. Kak Fida mau?”
“Bukannya saya pengen, tapi saya takut Emak kenapa-kenapa abis minum gituan. Situ kan suka bawa sial!” jawab Kak Fida.
“Fida… Kagak boleh ngomong begitu, ah!” ujar Emak, “Alhamdulillah, Neng… Makasih, ya. Emak emang demen tuh sama buah stroberi. Yang kecut-kecut itu, kan, Neng?”
“Iya, Mak…” jawabku singkat sambil berusaha kuat mempertahankan senyumku.
“Ya udah, Neng, ambil aja gelasnya di dapur. Sama sekalian tolong ambilin tahu goreng ya, di mari udah kosong.” Ujar Emak.
“Baik, Mak. Gak ada Fatih di dalam, kan?” tanyaku.
“Kagak ada. Kalo hari minggu, abis subuh dia ngajar tahsin di RT 5. Kalo kagak ada apa-apa lagi, jam 7an juga dia balik. Tapi, kalo ada acara, biasanya dia nyambung ampe lohor atawa asar,” jelas Emak. “Oh iya, Neng. Tahunya lagi digoreng sama Fira. Yang udah anget, tolong bawa ke mari yak!”
Saya berjalan memasuki rumah Akh Fatih yang asri itu. Di teras depan, hanya ada bale-bale berukuran 1,5 x 2 m. Selanjutnya, disambung pintu utama yang menghubungkannya dengan ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Tidak banyak asesoris di dalamnya. Hanya ada vas bunga, gambar Masjidil Haram, dan foto wisuda S1 Akh Fatih. Dapur adalah ruang paling belakang di rumah ini setelah meja makan yang berhadapan dengan televisi 19 inchi. Di sana, sudah ada Kak Fira yang sedang menggoreng tahu.
“Assalamu’alaykum, kak…”
“Wa’alaykum salam.” Jawab Kak Fira tanpa sedikit pun menengok ke arahku.
Lagi apa, Kak? Bisa saya bantu?” tanyaku
Tidak ada jawaban.
Saya bawa susu kedelai nih, Kak. Mau saya tempatin di gelas buat Emak dan Kak Fida di depan. Kak Fira juga mau, kan?”
Masih juga tidak ada jawaban.
 “Ehmmm… ya, sudah. Oh iya, saya juga disuruh Emak mengambil tahu goreng yang sudah hangat. Dimana ya, Kak?
“Lo liat dong pake mata. Jelas-jelas ada di deket kompor. Bisa enggak lo ngambilnya? Lo kan gak biasa kerja…”, kali ini Kak Fira menatapku walau dengan pandangan yang sinis.
“Oh, iya ya, ada di sini…” ujarku sambil tersenyum, “Ah, Kak Fira bisa aja. Bisa dong kalo cuma ngambil aja sih. Saya suka masak kok di rumah. Tapi, saya mah gak ada apa-apanya deh dibanding kak Fira…”
“Ga usah pake ngejilat. Saya tahu orang manja kayak lo bakal sering minta ini-itu sama suami. Padahal kan yang harus diurusin Fatih nantinya tuh bukan cuma bininya. Dia punya keluarga. Dia punya kakak,Emak, adik, keponakan… Saya cuma mau ngingetin lo supaya gak usah banyak gaya, deh. Apes banget Si Fatih kalo punya bini kayak lo!”
“Insya Allah, saya tidak seperti itu, Kak. Saya…”
“Alah… Gak usah banyak cincay. Lo tuh cuma bisa nyusahin aja!”
“Hmmm… Saya ke depan dulu, Kak,” kataku yang akhirnya hanya bisa menjawab singkat. Yang seperti ini tidak bisa dijawab dengan kata selain doa, melainkan dengan laku-ku. Dijawab dengan penjelasan panjang pun jatuhnya menjadi debat kusir. Ya, sudahlah, waktu yang akan menjawab. Segera kupindahkan tahu goreng yang sudah tiris ke atas piring plastik besar yang landai. Tanganku agak bergetar dengan iringan degup palpasi yang menyelimuti gejolak perasaanku dan …
“Praaaaaaaaaak….!!!”, piring itu sukses  mendarat di atas lantai. Astagfirullahal’azhim…
“Ya ampuuuuuuuuuun… Mentari… Lo tuh bener-bener bawa sial banget sih! Liat! Liat! Sadar gak sih kalo lo tuh perusak! Beresin!!!!!”, bentak Kak Fira.
“Innalillahi… Ya Allah… maaf, kak… Maaf… Ya Allah… ini akan saya ganti…  Biar ini saya yang beresin, jawabku seraya membereskan tahu-tahu itu dengan gaya panik.
“Ya iyalah, lo yang harus beresin… gantinya juga harus dua kali lipat karena lo udah bikin orang pagi-pagi udah marah-marah. Buruan beresin!”
Huuuaaaaaaaahhhhh…. Masya Allah... Ada saja… Aku memang harus sangat ekstra hati-hati melakukan segala sesuatu di rumah ini. Sama sekali belum terbayang bagaimana aku menyelesaikan skripsiku di rumah ini jika suasananya tetap seperti ini. Sebagaimana perjanjian yang lalu, sambil menunggu Akh Fatih berangkat ke Jerman lima bulan lagi, rencananya kami akan menghabiskan bulan-bulan awal pernikahan kami di rumah ini. Itu berarti saya menunda program studi profesi apoteker selama menemaninya di Jerman. Itu juga berarti saya harus terbiasa dengan suasana di rumah ini beberapa bulan sebelumnya.
Huff… Setelah selesai membereskan tragedi dapur, langkahku menuju halaman depan terasa lebih berat dari sebelumnya. Ya Allah, kuatkan aku… Semangat! Semangat! Keep your smile, ukhti…
“Nah, itu Neng Mentari…”, seru Emak, “Tahu gorengnya mana, Neng? Ditungguin nih!”
“Jalan lagi, Mak. Mau ke rumah Arief ya. Assalamu’alaykum…” ujar laki-laki yang mencium tangan Emak dan kemudian melaju tergesa dengan motornya.Seperti Akh Fatih… hahhhhh… perasaanku sedikit lebih lapang?
“Wa’alaykumussalam. Lha, die malah kabur lagi…” ujar Emak bingung.
“Itu Fatih kan, Mak? Kok dia ke sini? Bukannya sedang ada halaqah tahsin-tahfiz?” tanyaku.
“Iya, itu Fatih. Dia bilang lapar. Tahsinnya udahan. Mau ambil tahu goreng sekalian buat dimakan bareng-bareng di rumah Arief. Kayaknya sih itu alesan die aja, Neng,” kata Emak sambil tersenyum nakal, “Emak kan bilang hari ini Neng Mentari mau bantuin Emak jualan. Terus, dia mau mastiin Neng dateng. Mau nyobain gorengan bikinan mujahidah katanya. Eh, pas Neng dateng, die malah ngacir lagi…”
“Arief itu siapa, Mak?”
“Sohibnya Fatih. Biasanya kalo libur atawa beres kerja, mereka palingan ngurusin tim tela’ah dakwah majalah Islam… ehmmm… apaan gitu namanya… Emak lupa. Itu lho, Arief JM yang bantuin walimahan besok… yang ada JM-JM gitu deh namanya…”
“Oh…”, jawabku sekenanya.
“Tahu gorengnya mana, Neng?”
 Oh, iya.. aduh, bagaimana ini… kok aku malah ngobrol sama Emak. Akhirnya, aku hanya bisa tersenyum kecut. Aku duduk di samping Emak dan memegang tangannya dengan hangat. Kupandangi matanya yang sejuk dalam beberapa saat. “Mak, saya minta maaf sekali… “ kataku. Emak hanya terdiam dengan wajah bingung. “Saya memang bukan calon mantu yang baik. Tahu goreng yang sudah hangat sudah saya pindahkan ke piring. Tapi…, piring itu kemudian jatuh karena saya. Maafkan saya ya Mak. Saya bayar ya Mak..” jelasku perlahan.
“Masya Allah… Emak kira ada apa… Kagak ngapa, Neng. Kagak usah diganti. Udah ah, enggak apa-apa kok. Tenang aja, ya Neng,” ujar Emak sambil merengkuh tubuhku. Entah mengapa merasa sangat nyaman sekali dalam pelukannya.
“Bukan sekedar urusan dapur… itu bukan alesan Fatih memilih Neng Mentari dan bukan juga alesan Emak setuju ama pilihannya. Emak tertarik ama kepengenan Fatih membuat keluarga ahlul qur’an dan mengumpulkan lagi keluarga dunianya di akherat nanti.”
“Maksud Emak, apa?”
“Fatih pernah bilang, Rosulullah pernah bersabda kalo sesungguhnya Allah punya keluarga dari kalangan manusia. Pas sahabat nanya siapa, rosulullah menjawab: mereka adalah ahlul qur’an. Hadits ini* yang nguatin kecenderungan Fatih membentuk keluarga itu bersama Neng Mentari. Dia bilang, dia yakin betul bisa ngebina itu bareng Neng Mentari. Melahirkan generasi Qur’ani, katanya…”
Air mata yang telah kutahan sedari tadi meleleh juga akhirnya. Akh Fatih memang pribadi kompleks yang sederhana. Pemikirannya begitu sederhana. Keyakinannya juga demikian. Namun, semua terejalantahkan dalam langkah yang kompleks bagi sebagian orang tetapi sangat sederhana dan indah bagi yang menjalaninya.
“Udah, ah. Kagak usah pake mewek. Malu sama yang beli ke mari. Bentar lagi palingan Rani balik dari tukang sayur. Abis itu kalian pada beres-beres dah. Jadi belanja seserahan hari ini kan?”
“Ehmmm…  iya, Mak”, kataku sambil menghapus sisa air mataku. “Tapi, mungkin kami akan berangkat agak siangan. Tokonya juga paling baru buka jam 9 atau 10. Sebelumnya, saya bantuin masak deh… sekalian belajar dari Kak Fira sang Master. Oh iya, Emak mau dibelikan apa?”
“Wah… gak usah repot-repot, Neng. Yang mau nikah kan bukan Emak. Hehehe…”
***
Aduh… mau menemui Bu Asih itu sulit sekali. Kemarin, sudah saya tunggu dari pagi, eh ternyata ada tamu dari UGM datang ke kampus terlalu pagi. Setelah itu, keburu take off dari kampus karena si ibu ada agenda di BPOM. Kemarin lusa juga begitu. Janjinya, sebelum beliau rapat di ISFI, beliau akan ke kampus dulu untuk mengajar kuliah. Ternyata? Kata adik kelasku, kuliah farmakoterapi yang beliau pegang hari itu diundur pekan depan. Hari ini, aku harus bisa bertemu beliau. Deadline sidang skripsi adalah bulan depan, sementara sampai saat ini, diskusiku dengan beliau belum cukup optimal.
Kalau tidak hari jumat ini, kapan lagi? Sudah kepalang weekend. Pagi ini aku harus mencegatnya di ruangan beliau. Sebelum agenda mengajar beliau jam 09.15, beliau memberi kesempatan untuk saya berdiskusi dengannya. Alhamdulillah, aku sudah sholat Dhuha. Berarti, aku bisa duduk-duduk di kursi panjang depan ruangan tersebut sambil membaca ulang berkas-berkas kerja lab-ku.
Menit demi menit berlalu. Tiga pesan singkat saya tidak dibalas. Ditelepon juga tidak diangkat kecuali 15 menit yang lalu. Bu Asih bilang sebentar lagi beliau bisa kutemui di ruangannya. Jam di tanganku menunjukkan pukul 08.55. Biasanya, walaupun sejak pukul 08.00 beliau ke gedung Dekanat dulu, tak lama beliau pasti langsung ke ruangannya di sini. Mengapa Bu Asih lama sekali ya? Apa mungkin jalan dari gedung dekanat ke gedung Farmasi macet? Itu kan berjarak hanya 100 meter dan 5 menit dengan berjalan kaki normal? Sudahlah… semakin siang pikiranku sedikit berantakan. Mungkin karena aku belum sempat makan pagi. Beginilah pahitnya aktivitas menunggu ketidakpastian. Kita tak pernah tahu pada saat yang mana hal tersebut layak ditinggalkan sementara…
“Bip… Bip… Bip…,” dering handphone di sakuku. Mungkin ini dari Bu Asih. Segera kurogoh saku kananku dan meraih benda elektronik itu. Kubaca tulisan yang tertera di screen-nya yang cukup besar. Fatih memanggil? Tak biasanya beliau meneleponku, apalagi di jam kerja seperti ini.
“Assalamu’alaykum,” sapaku.
“Wa’alaykumussalam.  Kak Mentari, ini Rani. Maaf, Kak, baru bisa ngabarin. Kakak bisa bisa ke ICU RSCM sekarang? Bang Fatih kritis.”
“Innalillahi… kenapa, Ran?”
“Semalam Abang kecelakaan. Kakak bisa datang sekarang kan, Kak? Tolong, ya Kak.”
“Tapi, Ran… Ran? Rani? Halo? Halo, Rani? Rani?”
“tuuuuuuuuut….. tuuuuuuuut….. tuuuuuuuut……..”
Ya Allah… cobaan apa lagi ini… Ada apa dengan Fatih? Tubuhku terasa lemas, kepalaku berat, pandanganku memburam, dan napasku agak sesak. Aku masih belum bisa berpikir jernih. Ada apa dengan Fatih? Kepalaku seolah hanya berisi kata Fatih dan kecelakaan…
“Mentari…? Mentari? Kamu Mentari kan?” ujar Bu Asih membuyarkan lamunanku. “Silakan masuk ke ruangan saya. Maaf ya, sudah menunggu lama. Mari…”
“Hahhh? Iya ya, baik, Bu,” jawabku setengah sadar sambil mengikutinya memasuki ruangannya.
“Silakan duduk.”
“Terima kasih, Bu”
“Saya sudah baca berkas yang kamu taruh di meja saya dua hari yang lalu. Secara umum, memang tidak bermasalah. Tapi ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan. Sejak awal kan saya sudah berulang kali mengingatkan kamu. Untuk data sampel kelompok mencit yang…  bla… bla… bla…”
Aku hanya bisa menundukkan wajahku di hadapan Bu Asih. Aku tidak jelas betul apa yang sedang dijelaskannya. Yang jelas, pernikahanku sebentar lagi,Akh Fatih kritis, sementara aku di sini, tidak tahu apa-apa lagi dan belum berbuat apa-apa…
“Saudara Mentari? Anda menyimak penjelasan saya?”
“Ya, maaf, Bu. Bisa diulangi, bagaimana?”
“Kamu tidak memperhatikan saya, ya? Saya tahu besok lusa kamu akan menikah. Undangan kamu sudah saya terima kok. Tapi, kamu harus tetap fokus dengan tugas kamu sekarang.”
Aku hanya bisa diam.
“Mentari, sekarang ibu tanya kamu sebagai pribadi. Ada apa? Tidak biasanya kamu nge-blank seperti ini?” tanya Bu Asih seraya menatapku lekat.
Aku masih terdiam dalam beberapa detik. “Bu, jika hari ini pernikahan ibu sudah sedemikian dekat seperti saya, tetapi saat ini calon mempelai laki-lakinya terbaring lemah di ICU, apa yang akan ibu lakukan?” tanyaku dengan tatapan datar. Entah apa yang mendorogku menanyakan hal ini pada beliau. Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Temui dia sekarang juga, Mentari. Berikan dia semangat untuk bertahan. Berangkat sekarang, Nak,”
Tak di sangka, Dosenku yang dikenal galak itu ternyata sangat perhatian. Sepertinya cukup mudah menangkap latar dari wajah sekusut aku saat ini. Aku pun berlalu dengan cepat dari hadapan Bu Asih.
“Terima kasih, Bu. Terima kasih. Saya pamit dulu. Mohon doanya, Bu… assalamu’alaykum…”
***
 “Mentari!” seru Bu Dina.  Ustadzahku ini menyambutku dengan pelukan. Aku jadi semakin bingung. Aku tak melihat Emak dan saudara-saudara Akh Fatih yang lain. Hanya ada orang-orang yang tidak aku kenal dan polisi! Mataku masih mencari sosok lain yang mungkin kukenal. Ternyata tidak ada selain Bu Dina dan suaminya di lorong menuju ruang ICU.
“Yang lain kemana, Bu?”
“Mereka baru saja diminta ke dalam,” jawab Bu Dina dengan tenang. “Kita berdoa di sini saja..”
“Bagaimana keadaan Akh Fatih sekarang? Apa dia dalam keadaan sadar? Kapan bisa dibawa pulang? Sebenarnya ada apa, Bu? Apa dia sudah lama di ICU?” tanyaku penasaran.
“Semalam Fatih sempat ke UGD dulu. Semoga Allah memberinya yang terbaik.”
“Maksud ibu? Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Akh Fatih? Ada apa, Bu?”
“Mentari sayang, sekitar jam 10 tadi malam, ada 2 orang yang menjemput Fatih di rumah. Mereka mengaku utusannya Pak Haji Ali, imam masjid Kampung Sawah, daerah rawan pemurtadan tempat Fatih dan teman-teman tim tela’ah dakwah menyelesaikan proyek penyelamatan aqidah. Dua orang itu mengaku disuruh untuk menjemput Fatih karena keadaan kampung mereka sedang tidak aman. Fatih pun pergi dengan dibonceng oleh salah satu dari mereka dengan motor…,” sejenak Bu Dina menghela napasnya, “Entah bagaimana lagi…, jam 3 dini hari tadi, Arief JM sebagai mas’ul tim itumengabari keluarga Fatih bahwa Fatih ditemukan orang di pinggir jalan dalam keadaan terluka tusuk.”
“Kenapa saya baru dikabari, Bu?” tanyaku dengan suara tersekat tangis.
“Keluarganya yang…”
“Ya, ya… Kakaknya tidak ingin melihatku dan menganggapku bawa sial…,” ujarku. “Tapi, tidak untuk keadaan seperti ini. Saya harus segera menemui Akh Fatih di dalam.”
“Nanti saja, Tari,” cegah Bu Dina dengan lembut seraya memegang lenganku, “Biar keluarga mereka dulu…”
“Saya harus melihatnya. Saya juga harus bicara dengan kakaknya itu. Masa’ saya baru tahu… Saya calon istrinya, Bu.”
“Kita tunggu dan berdoa di sini saja,” kata Bu Dina sambil tidak melepaskan lenganku.
“Dia masih berhutang Ar-Rohman pada saya untuk ahad ini, Bu. Saya sudah mempersiapkan pernikahan saya… Saya…”
“Mentari!” seru Bu Dina, kali ini dengan nada yang lebih tinggi.
Kami berdua terdiam dalam beberapa saat. Lisanku tak henti menggumamkan doa padaNya. Suasana menjadi hening dan tegang. Tak lama, pintu yang memisahkan ruang tunggu dan ruang ICU itu terbuka. Saya dan beberapa ikhwah segera melayangkan perhatian ke arah sana. Kami bersiap mendengar kabar dari Arief yang membuka pintu tersebut.
“Fatih syahid…”
Allahu akbar! Innalilahi wa inna ilaihi roji’un…
Tubuhku melemas seketika. Segera Bu Dina menopangku dengan peluknya. Suara tangis membuncah bagai ribuan lebah yang berkerumun. Mujahid itu telah lebih dulu menggapai citanya. Cukuplah Ar-Rohmannya bergema di hadapan Ar-Rohman…
***

Betapa skenario Allah adalah selalu yang terbaik bagi setiap hambaNya. Allah
yang Maha Menciptakan sejatinya selalu Maha Tahu dan Maha Memahami setiap ciptaanNya. Segala puji dan syukur untukNya atas tarbiyah Ilahiyah yang kurentas dalam rumah tanggaku. Tidak ada penundaan hari pernikahan yang telah aku dan keluargaku persiapkan. Sejak ahad itu, aku hidup dalam sebuah keluarga yang bernapas dengan udara kasih sayang dan naungan Al-Qur’an.
Malam ini, suamiku kembali memenuhi sebuah panggilan dakwah ke bagian timur negeri ini. Ia kembali menjadi kapten pada agenda dakwah kali ini. Bersiap dengan segala kemungkinan adalah kemestian bagiku dalam mendamping seorang mujahid. Cukuplah Allah sebaik-baik pelindung…
“Fatih insya Allah akan menikahi bidadari di syurga. Tapi, aku telah lebih dulu menikahi seorang bidadari yang masih berada di dunia…,” bisik Arief Jihady Musthafa seraya mendaratkan sebuah kecupan di keningku.